Samita (9)

Perempuan muda itu tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Terima kasih, Kisanak. Apa yang kisanak katakan sangat membantu.”

Setelah berpamitan, laki-laki itu berlalu. Perempuan muda tadi lantas mengikat tali kekang kudanya di depan rumah makan. Kemudian, dia masuk ke rumah makan itu untuk mengisi perut. Perempuan muda itu tampak trengginas. Rambut panjangnya diikat ringkas menyerupai ekor kuda.

Baju yang dikenakannya juga tak merepotkan. Tubuhnya terlihat singset dengan ukuran baju yang pas betul dengan bentuk tubuhnya yang semampai. Dia memakai celana panjang hitam yang ditutupi kain sebatas lutut. Di pinggangnya terselip sebilah keris.

Lanjutkan membaca

Dipublikasi di NOVEL: SAMITA : Sepak Terjang Murid Perempuan Cheng Ho | Tinggalkan Komentar

Samita (10)

Mereka sengaja memberi ruang bagi Ramya dan Windriya untuk melawan. Pertarungan menjadi agak panjang. Meskipun belum juga mampu menyentuh seujung kuku lawan, Ramya tak patah arang. Dia terus menyerang musuh dengan sergapan-sergapan berbahaya.

Beberapa kali dia menyerang pergelangan kaki Kolo Ireng dengan sepakan kakinya, namun gagal. Keris mautnya pun tak berhenti menderu ke arah ulu hati lawan, namun tak kunjung menemui sasaran. Sebaliknya, Kolo Ireng tak sekali pun membalas serangan Ramya. Dia seperti asyik bermain-main melompat ke kanan dan ke kiri menguras tenaga Ramya yang terbuang percuma.

Lanjutkan membaca

Dipublikasi di NOVEL: SAMITA : Sepak Terjang Murid Perempuan Cheng Ho | Tinggalkan Komentar

Samita (8)

“Sien Feng!”

Suara Hui Sing melengking menabrak kalimat Sien Feng. Ini pertama kalinya Juen Sui dan Sien Feng mendengarkan Hui Sing berteriak begini kasar. Bahkan, melepaskan kata “kakak” di depan nama Sien Feng.

Hui Sing menggeser tubuhnya hingga benar-benar berhadapan dengan kedua kakak seperguruannya. Tapi kini, tatapan matanya yang setajam pedang, yang baru saja diasah itu, menghunjam ke mata Sien Feng.

“Setelah semua perbuatan keji ini, kau masih ingin mengelak!”

“Adik Hui Sing, aku tak paham maksudmu?”

Lanjutkan membaca

Dipublikasi di NOVEL: SAMITA : Sepak Terjang Murid Perempuan Cheng Ho | Tinggalkan Komentar

Samita (6)

Usai itu, dia kembali asyik menikmati kebersamaannya dengan ilmu. Purnama semakin menjauh. Angin dingin mulai menelusup ke ruang-ruang bangunan keputren. Ketika terasa di sunsum tulang rasa dingin yang mencekat, barulah Hui Sing sadar, hari telah larut.

Beberapa kali ia memastikan bahwa Anindita benar-benar menghadiahkan kitab itu kepadanya. Setelah yakin, barulah dia berpamitan dan kembali ke wisma tamu dengan kegembiraan yang barangkali sulit dicerna oleh orang lain. Begitu berartikah sebuah kitab?

Sesosok bayangan hitam mengendap-endap di genteng kompleks peristirahatan Rakryan Rangga Abyasa, pejabat nomor dua setelah patih kepercayaan Raja Wikramawardhana. Gerakan orang bercadar itu gesit. Cepat, tanpa menimbulkan banyak suara. Para prajurit jaga tak satu pun yang menyadari keberadaannya di atas wuwungart4i.

Lanjutkan membaca

Dipublikasi di NOVEL: SAMITA : Sepak Terjang Murid Perempuan Cheng Ho | Tinggalkan Komentar

Samita (7)

Ujung sabuk itu membuat pusaran angin yang deras menyambut si penyerang. Kaget bukan main, si penyerang mengurungkan niatnya melakukan bacokan dari udara. Ia lalu bersalto ke belakang. Namun, Hui Sing sudah menduga gerakan itu.

Dia pun menyerbu ke depan dengan dua ujung sabuk yang kini siap melumpuhkan lawan. Menghadapi satu ujung sabuk saja sudah begitu repot, si penyerang bercadar itu sekarang mesti menghadapi dua tangan Hui Sing yang sama-sama memainkan sabuk.

Lanjutkan membaca

Dipublikasi di NOVEL: SAMITA : Sepak Terjang Murid Perempuan Cheng Ho | Tinggalkan Komentar